PBSI Blunder Gali Lubang Kuburan Sendiri Imbas Aturan Baru di Indonesia IC 2023
Akun BL yang menyoroti fenomena tersebut yakni Goodminton di Twitter. Dalam cuitannya, Goodminton menilai aturan ini bak dua mata pisau bagi bulutangkis di tanah air.
Bagaimana tidak, meskipun PBSI membatasi ranking pemain ikut di turnamen level internasional tapi tidak dibarengi dengan gelaran turnamen dewasa level nasional.
Alasan ketiga:
— GOODminton (@G_minton) August 28, 2023
Sirnas Dewasa (kelahiran 2004 dan sebelumnya) hanya ada 1 seri dalam waktu 1 tahun. Yupsss... PBSI hanya menyelenggarakan 1 Sirnas C (Dewasa).
Diketahui, PBSI tahun ini hanya menggelar sekali saja turnamen Sirkuit Nasional C (level dewasa) di Palembang pada 20-27 November dari agenda 13 seri Sirnas yang digelar pada 2023.
Bukan hanya itu, menurut desas-desus Goodminton, PBSI sudah melarang pemain bermain rangkap sejak level junior dalam beberapa tahun terakhir.
BL mendesak PBSI untuk segera merevisi aturan soal pembatasan ranking atau setidaknya memperbanyak turnamen nasional dewasa agar para pebulutangkis non-ranking dunia bisa menambah poin.
Karena jika tidak, diprediksi tren bulutangkis di tanah air semakin sepi peminatnya. Tahun 2024 mendatang mungkin juga akan menjadi kuburan bagi pemain kelahiran 2005 karena isu tersebut.
Dampak apabila tidak dilakukan revisi aturan, maka tahun 2024 akan jadi kuburan pemain kelahiran 2005.
— GOODminton (@G_minton) August 28, 2023
Sekian.
Bukan mustahil, para pebulutangkis yang terdampak aturan tersebut memutuskan pindah kewarganegaraan, pensiun dini dan jadi pelatih, atau bahkan terpaksa main di level tarkam.
3 alasan tersebut membuat banyak pemain kelahiran 2004 banting stir. Riset/tracking kecil-kecilan yang dilakukan @abangbangbang :
— GOODminton (@G_minton) August 28, 2023
1. Ada yang pindah kewarganegaraan
2. Ada yang langsung jadi pelatih
3. Ada yang terpaksa ke tarkam
4. Ada yang ke luar negeri jadi pelatih
Jika sudah begini, regenerasi bulutangkis Indonesia pun akan terhenti cept atau lambat. Hal ini pun akan berdampak pada prestasi bulutangkis tanah air di mata dunia.
Contoh besaranya saja, Indonesia harus pulang tanpa medali emas di Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2023. Satu-satunya medali disumbang oleh ganda putri Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti yang meraih medali perak.