Indonesia Open dan Mimpi Buruk Tunggal Putra China yang Minim Gelar Juara
INDOSPORT.COM - Kisah menarik dari ajang bulutangkis Indonesia Open yang kerap menjadi mimpi buruk tunggal putra China, bahkan sangat jarang meraih gelar juara di akhir kompetisi.
Indonesia Open sendiri merupakan salah satu turnamen bulutangkis yang cukup bergengsi di kelas BWF. Tercatat, kompetisi yang mulai digelar sejak tahun 1982 ini telah mendapat status Super 1000.
Artinya, turnamen yang diselenggarakan di Jakarta tersebut sama levelnya dengan ajang All England di Inggris maupun China Open yang berlangsung di China.
Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggara berhasil menguasai turnamen bulutangkis Indonesia Open ini sepanjang 37 tahun bergulir.
Tercatat, ada total 83 gelar juara yang berhasil dimenangkan para wakil Indonesia pada ajang Indonesia Open di berbagai nomor yang berbeda.
Tunggal putra dan ganda putra menjadi nomor yang paling sering menyumbang gelar juara. Dua kategori tersebut sejauh ini sudah mempersembahkan 44 gelar juara, yang masih-masing terbagi dalam 22 gelar tunggal putra dan sisanya milik ganda putra.
China menjadi pesaing terberat Indonesia dalam daftar total gelar juara. Wakil dari negeri Tirai Bambu tersebut tercatat sudah mengoleksi 47 gelar, dengan tunggal putri sebagai nomor yang paling banyak menyumbang medali juara.
Dikenal sebagai salah satu negara dengan kekuatan bulutangkis terkuat di dunia, namun faktanya banyak tunggal putra China yang justru mengalami nasib apes bahkan gagal juara di ajang Indonesia Open.
Sejarah mencatat, hanya ada tiga wakil tunggal putra China yang bisa menjuarai ajang Indonesia Open. Mereka adalah Han Jian pada tahun 1985, Yang Yang di tahun 1987 serta Xiong Guobao dua tahun berselang.
Meski begitu, beberapa tunggal putra China sempat tampil di partai final Indonesia Open, namun hampir semuanya gagal menjadi juara.
Terhitung sudah lima kali para pemain tunggal putra negeri tirai bambu menerobos babak puncak. Tetapi tidak satupun yang bisa meraih gelar di ajang Indonesia Open.
Lantas siapa sajakah para tunggal putra China yang bernasib sial tersebut dan seperti apa kisahnya? Lebih lengkapnya berikut INDOSPORT coba merangkum serta mengulas.
Chen Hong
Nama pertama adalah Chen Hong, tunggal putra yang sempat meraih medali perunggu kejuaraan dunia tahun 2001 serta bagian Timnas China kala menjuarai Sudirman Cup 2001 ini, berhasil mencapai babak final Indonesia Open tahun 2002 silam.
Namun sayang, dalam partai puncak tersebut, Chen Hong menelan kekalahan dari Taufik Hidayat dengan skor 12-15, 12-15. Tidak cuma sekali, Chen Hong bahkan kembali masuk partai final di dua edisi Indonesia Open berikutnya (2003 dan 2004).
Lagi-lagi, Chen Hong mengalami nasib buruk dengan kembali menelan kekalahan dan sialnya selalu didapatkan saat berhadapan dengan Taufik Hidayat.
Pada tahun 2003, Chen Hong dikalahkan Taufik Hidayat dengan skor 9-15, 9-15, Sedangkan setahun berselang yakni Indonesia Open edisi 2004, ia kembali menelan kekalahan dari Taufik Hidayat dengan angka 10-15, 11-15.
1. Bao Chunlai
Berikutnya ada Bao Chunlai. Peraih Sudirman Cup dan Thomas Cup bersama Timna China ini berhasil melangkah ke partai puncak Indonesia Open tahun 2006 silam.
Namun sayang, Taufik Hidayat kembali menjadi momok menakutkan dan menghentikan langkah Bao Chunlai dengan angka 21–18 dan 21–17.
Pada tahun 2002 dan 2004, Bao Chunlai juga sempat melangkah ke semifinal namun ia terhenti usai takluk dari rekan senegaranya, Chen Hong.
Du Pengyu
Terakhir, ada Du Pengyu. Tunggal putra China kelahiran Hebei ini pernah mencapai babak final Indonesia Open pada tahun 2012 silam. Du Pengyu melangkah ke partai puncak usai mengalahkan beberapa unggulan Tanah Air, termasuk Sony Dwi Kuncoro di perempat final.
Padahal sebelumnya, Sony Dwi Kuncoro adalah tunggal putra yang mampu mengalahkan TaufiK Hidayat di babak kedua. Catatan tersebut membuat Du Pengyu menjadi unggulan yang diprediksi bisa menjadi juara.
Namun sayang, pada partai final, dirinya malah kalah dari tunggal putra Indonesia lainnya yakni Simon Santoso dengan rubber game 21-18, 13 -21 dan 21-11.